YLBHI Tuding Dua Orang Dalang Aksi Ricuh di Depan Kantor LBH

Ketua YLBHI Bidang Advokasi Muhammad Isnur dengan gamblang menyebut dua nama yang cukup agresif melakukan kampanye dan instruksi yang cukup viral di media sosial.

YLBHI Tuding Dua Orang Dalang Aksi Ricuh di Depan Kantor LBH

kericuhan di depan kantor LBH, saat massa akan membubarkan seminar yang diduga tentang PKI

Prozenith - Aksi unjuk rasa yang berujung ricuh di kantor LBH Jakarta mendapat sorotan banyak pihak. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menduga ada dalang di balik aksi massa tersebut. Disinyalir ada dua nama yang disinyalir sebagai motor aksi.
 
Bahkan Ketua YLBHI Bidang Advokasi Muhammad Isnur dengan gamblang menyebut dua nama yang cukup agresif melakukan kampanye dan instruksi yang cukup viral di media sosial.
 
"Yang pertama Rahmat Himran. Saya enggak tahu siapa dia, tapi rupanya dia presidium 313 (aksi)," kata Isnur dalam konferensi pers di Kantor Komnas Perempuan, Jakarta Pusat, Senin, (18/9/2017).
 
Menurutnya, Rahmat Imran adalah orang yang menyebarkan undangan konferensi pers dan hoax di media sosial terkait aksi di kantor LBH. Dalam informasi itu, kata Isnur, Rahmat Imran lah yang bertanggung jawab atas aksi pengepungan kantor LBH. 

"Saya belum tahu polisi sudah menangkap dia atau belum, tapi jika polisi menelusuri, akan banyak jejak digitalnya," ujar Isnur. Nama kedua yang disebut Isnur adalah seorang Jenderal Purnawirawan. "Yang kedua nama Kivlan Zein," ucapnya.
 
Isnur mengatakan, nama Kivlan Zein muncul dalam sebuah website yang memberitakan kalau Kivlan memimpin rapat koordinasi pembubaran PKI. "Ini distorsi paling awalnya, menurut saya."
 
Sementara, aktivis Jaringan Gusdurian, Savic Ali enggan menyebut nama. Namun, berdasarkan pemantauan dan pengalamannya sebagai aktivis, ia melihat dalang aksi masih orang-orang lama.
 
Ia meminta polisi maupun media segera bisa mengungkap. Kalau tidak, ia khawatir ada korban lain dengan pola yang sama. "Pada dasarnya aktornya itu-itu saja. Saya khawatir ada kepentingan lain, politik dan apapun. Kelompok ini juga sangat rentan dimanfaatkan," ungkap Savic.