Geert Wilders Otaknya Kacau, Sebut Indonesia Harusnya Minta Maaf pada Belanda

Ini bukan kali pertama Wilders memicu kontroversi. Politikus dari Partai untuk Kebebasan itu dikenal atas tindak diskriminasi beruntun.

Geert Wilders Otaknya Kacau, Sebut Indonesia Harusnya Minta Maaf pada Belanda

Politikus sayap kanan Belanda, Geert Wilders

Jakarta, RadarKota - Berbeda sikap dengan pemerintah Belanda, politikus Geert Wilders justru mencuci tangan dan menuding balik Indonesia memalsukan sejarah atas kekerasan oleh militer negara tersebut terhadap rakyat Indonesia.

Politikus sayap kanan Geert Wilders menyebut pengakuan atas kekerasan oleh militer Belanda sebagai bentuk pemalsuan sejarah. Bagi Wilders, tentara Belanda merupakan pahlawan. Wilders bersikeras bahwa Indonesialah yang seharusnya meminta maaf.

“Di mana permintaan maaf dari pihak Indonesia atas kekerasan mereka terhadap Belanda dan Bersiap?” tulis Wilders dalam sebuah cuitan di Twitter. 

Bersiap merujuk pada kekacauan yang melanda Pulau Jawa usai peralihan kekuasaan dari Jepang kepada pemerintahan RI.

“Menghukum tentara Belanda adalah memalsukan sejarah. Mereka adalah pahlawan. Kita harus berdiri di belakang veteran kita,” sambungnya.

Padahal PM Belanda Mark Rutte sebelumnya mengungkapkan permintaan maaf mendalam kepada masyarakat Indonesia pada Kamis (17/2). Rutte mengakui institusi-institusi Belanda menggunakan kekerasan ekstrem semasa perang kolonial karena budaya abai dan rasa superioritas.

“Atas penggunaan kekerasan ekstrem yang sistematis dan luas oleh pihak Belanda pada tahun-tahun itu dan atas pengingkaran yang terus-menerus oleh kabinet-kabinet sebelumnya, saya hari ini atas nama pemerintah Belanda menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada Bangsa Indonesia,” ujar Rutte, seperti dikutip dari siaran RTLNieuws.

PM Rutte menyampaikan penyesalannya itu selepas membaca sebuah hasil studi dari tiga lembaga berbeda. Studi tersebut berjudul “Kemerdekaan, dekolonisasi, kekerasan, dan perang di Indonesia, 1945-1950."
        
Kesimpulan dari penelitian menyinggung pembiaran atas kekejaman ekstrem yang dilakukan militer Belanda. Peneliti menemukan, para tentara melanggengkan kekerasan sistemik yang meluas dan mendalam selama Perang Kemerdekaan Indonesia (1945--1949).

Permintaan maaf itu disambut baik oleh warga dan pemerintah Indonesia. Pengakuan atas luka yang ditorehkan setidaknya dapat menjadi landasan baru agar hubungan kedua negara dapat melangkah maju.

Ini bukan kali pertama Wilders memicu kontroversi. Politikus dari Partai untuk Kebebasan itu dikenal atas tindak diskriminasi beruntun.

Wilders kerap melompat dari satu ke lain kontroversi bak kutu. Ia menghina bangsa Maroko selama kampanye pada 2014 lalu. Bahkan, Wilders sempat disidang atas diskriminasi berbasis ras tersebut.

Pun dunia mengenalnya berkat sentimen anti-Islam. Seluruh karier pria yang dijuluki "pompadour emas" berkat rambut yang dicat pirang itu berdiri di atas prasangka dan bias. Wilders singgah kembali dalam persidangan atas ujaran kebencian usai merilis film pendek "Fitna" yang isinya mencela Islam pada 2008 lalu.