Mitos HIV/AIDS yang Masih Dipercaya Banyak Orang

Infeksi HIV dapat menyebabkan timbulnya AIDS. AIDS merupakan suatu kondisi di mana sistem imun pada orang yang terinfeksi HIV sudah mengalami kerusakan serius

Mitos HIV/AIDS yang Masih Dipercaya Banyak Orang

Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrom (AIDS)

Jakarta, BerlimaNews - Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang dapat hidup di darah, cairan seksual dan ASI manusia. HIV dapat melemahkan sistem imun sehingga tubuh akan sulit untuk melawan beragam infeksi kuman, virus hingga jamur yang sebenarnya cukup umum.

HIV bisa ditularkan dari manusia ke manusia melalui cairan tubuh tertentu atau melalui jarum suntik. Seorang ibu yang positif HIV juga dapat menularkan virus tersebut kapada anak mereka saat proses melahirkan, ketika bayi terpapar darah atau ASI ibu.

Infeksi HIV dapat menyebabkan timbulnya AIDS. AIDS merupakan suatu kondisi di mana sistem imun pada orang yang terinfeksi HIV sudah mengalami kerusakan serius. Kerusakan sistem imun ini membuat tubuh tak lagi dapat melawan infeksi dengan baik sehingga penderita HIV/AIDS lebih mudah terpapar infeksi oportunistik, misalnya tuberkulosis maupun pneumonia.

Saat ini, infeksi HIV dapat dikelola lebih baik melalui terapi pengobatan medis. Meski terapi pengobatan medis sudah lebih maju, masih ada cukup banyak miskonsepsi mengenai HIV/AIDS di tengah masyarakat awam. Berikut ini adalah lima pemahaman keliru seputar HIV/AIDS yang masih banyak diyakini masyarakat seperti dilansir Health24.

Hanya Homoseksual yang Perlu Tes HIV
HIV pada dasarnya bisa mengenai siapa saja, mulai dari bayi yang dilahirkan oleh ibu penderita HIV hingga korban pemerkosaan. Oleh karena itu, tes HIV tidak hanya terbatas pada kelompok tertentu saja yang dinilai berisiko tinggi.

Orang-orang yang merasa perlu menjalani tes HIV sebaiknya tidak merasa malu dan enggan. Tes HIV penting dilakukan untuk mengetahui status penyakit, karena gejala HIV umumnya tidak muncul di beberapa tahun awal setelah terinfeksi.

Semakin dini infeksi HIV terdeteksi, semakin cepat penderita mendapatkan akses terhadap obat antiretroviral (ARV) untuk melawan virus dan mengontrol kondisi. Mengetahui status sejak dini juga memungkinkan penderita HIV untuk mencegah penularan terhadap orang lain, khususnya melalui hubungan seksual.

Langsung Sakit Berat Setelah Terdiagnosis Positif HIV
HIV memang dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius dan mematikan yaitu AIDS. Akan tetapi, kehidupan tidak akan langsung runtuh setelah terdiagnosis positif HIV. Saat ini, HIV bisa dikontrol dengan baik melalui penggunaan ARV dan ada cukup banyak penderita HIV yang bisa menjalani hidup dengan baik layaknya orang-orang sehat lain.

Menurut WHO, HIV akan berkembang menjadi AIDS bila tidak diterapi dengan ARV. Perkembangan HIV menjadi AIDS pun biasanya memerlukan waktu sekitar 10-15 waktu. Oleh karena itu, semakin cepat HIV terdeteksi, akan semakin baik.

Hanya Orang Miskin yang Terkena HIV/AIDS
HIV pada dasarnya tidak memandang status ekonomi. Menurut sebuah paper dalam jurnal AIDS, masalah terbesar dalam mendapatkan terapi HIV/AIDS bukanlah status ekonomi melainkan stigma negatif yang meliputi penderita HIV/AIDS.

Orang Bertubuh Sangat Kurus Pasti HIV/AIDS
AIDS yang sudah mencapai stadium akhir memang dapat menyebabkan penurunan berat badan dan kerusakan sistem imun. Akan tetapi, tubuh yang kurus tidak dapat menjadi faktor penentu bahwa seseorang pasti menderita HIV/AIDS.

Gejala-gejala dan tanda pada tubuh biasanya baru akan muncul bertahun-tahun setelah seseorang terinfeksi HIV. Gejala dan tanda fisik ini akan semakin lama muncul pada orang-orang HIV positif yang mendapatkan terapi ARV dan menerapkan pola hidup sehat serta aktif.

Tak Mungkin Menikah Bila Positif HIV/AIDS
Hubungan seksual tanpa pengaman memang merupakan salah satu cara penularan HIV. Akan tetapi, penularan ini bisa dicegah bila hubungan seksual dilakukan dengan alat pengaman.

Orang dengan HIV positif bahkan dapat memiliki anak yang bebas dari HIV. Hal ini diungkapkan oleh Quinton Jonck, laki-laki dengan HIV positif. Jonck memiliki istri yang negatif dari infeksi HIV. Jonck secara teratur mengonsumsi obat-obatan sehingga angka viral load-nya menjadi nol.

Kesempatan ini Jonck ambil untuk mendapatkan keturunan melalu prosedur sperm washing dan inseminasi. Dengan cara ini, Jonck dan istri berhasil mendapatkan tiga keturunan yang kesemuanya diketahui HIV negatif. Setelah 14 tahun menjalani pernikahan, sang istri pun masih berstatus HIV negatif karena mereka selalu melakukan hubungan seksual dengan pengaman.