Arab Saudi Penjarakan Puluhan Aktivis Perempuan

Mereka yang ditahan dicap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan dituduh sebagai agen asing

Arab Saudi Penjarakan Puluhan Aktivis Perempuan

Potret Wanita di Arab Saudi

Riyadh, BerlimaNews - Arab Saudi terus memenjarakan lebih dari selusin aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) perempuan. Sebagian besar dari mereka berkampanye untuk hak mengendarai dan mengakhiri sistem perwalian laki-laki, yang mengharuskan perempuan untuk mendapatkan persetujuan dari kerabat laki-laki untuk keputusan besar. 

Pada tahun 1990, lebih dari 40 perempuan mengendarai mobil mereka di ibukota Riyadh. Hal ini adalah demonstrasi publik pertama melawan larangan mengendarai mobil bagi perempuan yang sekarang telah dicabut. Sejak itu, protes serupa lainnya juga dilakukan. Pemerintah kemudian memulai tindakan keras terhadap aktivis HAM. Mereka yang ditahan dicap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan dituduh sebagai agen asing. Bahkan hukuman yang mereka hadapi hingga 20 tahun penajara jika terbukti bersalah. 

Human Rights Watch (HRW) mengatakan, alasan penangkapan adalah untuk membungkam perempuan dan mencegah orang lain berpartisipasi dalam aktivitas tersebut. Organisasi HAm di seluruh dunia telah meminta Arab Saudi untuk membebaskan semua tahanan politik ini namun tidak berhasil. 

Pekan lalu, Amnesty International mengatakan aktivis Arab Saudi, termasuk wanita, yang telah ditangkap tahun ini menghadapi pelecehan seksual dan penyiksaan selama interogasi. Para aktivis yang ditahan di penjara Dhahban di pantai Laut Merah barat menghadapi pemukulan listrik dan dicambuk berulang-ulang. 

Kepala ALQST, Yahya Alassiri kelompok HAM Arab Saudi yang bermarkas di London mengatakan, pihak berwenang meneragetkan aktivis HAM laki-laki di masa lalu. Namun, karena rezim menjadi lebih agresif mereka juga mulai menargetkan perempuan. "Untuk membenarkan itu, mereka mencoba mengatakan bahwa wanita-wanita ini berkoordinasi dengan kedutaan atau negara asing. Untuk mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka adalah pengkhianat," kata Alassiri, dikutip dari Aljazirah, Kamis (29/11/2018). Berikut adalah beberapa wanita yang dipenjara karena menuntut HAM: 

Loujain Alhathloul
Alhathloul adalah seorang aktivis HAM perempuan dari Jeddah, Arab Saudi. Selama bertahun-tahun, dia menuntut hak peremuan untuk mengemudi di kerajaan. Melalui sosial media, ia juga aktif menyuarakan pendapatnya. Perempuan 29 tahun ini sudah ditangkap beberapa kali karena menentang larangan perempuan yang mengemudi di Arab Saudi. "Kita tidak lagi tinggal di negara yang terisolasi. Siapapun bisa mengumpulkan informasi mengenai apa yang terjadi di sini. Itulah mengapa kami berusaha untuk berkembang tanpa mengabaikan rasa sakit saudara perempuan kami. Kami harus berbicara tentang apa yang membahayakan mereka dan keberadaan mereka," tulis dia dalam Twitter pribadinya, Februari 2018 lalu. 

Dalam sebuah wawancara dengan Economist pada Januari 2016, ia menyoroti tantangan yang dihadapi wanita Arab Saudi ketika mereka tidak mengemudi. Dia mengatakan ia telah mendedikasikan 30 persen gajinya kepada supir dan meminta orang untuk mengantar dia berkeliling.  "Mereka (pemerintah) mengatakan kepada kami bahwa kami benar-benar dilindungi, bahwa kami memiliki hak untuk mengekspresikan diri dengan bebas tanpa dihukum atau dikirim ke penjara, tapi dalam praktiknya tidak ada," kata dia. 

Samar Badawi
Badawi merupakan seorang aktivis pemenang penghargaan dan dikenal karena pertempuran hukumnya dengan sang ayah yang kasar. Ayahnya mengajukan gugatan kepadanya ketika ia mencari perlindungan di penampungan wanita tahun 2008. Akibatnya, ia ditangkap dan menghabiskan enam bulan di penjara atas tuduhan 'tidak taat pada orang tua'. Ia kemudian dibebaskan setelah pengadilan umum Jeddah memutuskan untuk mendukungnya dan mengalihkan perwaliannya kepada sang paman. 

Sejak saat itu, Badawi telah menganjurkan penghapusan sistem perwalian laki-laki. "Saya belajar bahwa kami memiliki Undang-undang untuk melindungi hak perempuan, tapi perempuan itu perlu mencarinya sendiri dan memikirkan bagaimana memanfaatkan aturan itu," kata Badawi. Pada Maret 2012, Departemen Negara Bagian Amerika Serikat memberikan penghargaan kepada Badawi dengan Penghargaan Wanita Internasional tentang Keberanian untuk pekerjaan dan aktivismenya. Pada tahun 2014, ia dikenakan larangan bepergian dan ditangkap pada tahun 2016 karena pekerjaan HAM, sebelum dibebaskan dengan jaminan.

Namun, ibu dua anak itu ditangkap lagi pada Juli 2018 bersama aktivis Nassima Alsadah. "Penangkapan Samar Badawi dan Nassima Alsadah menandakan bahwa pihak berwenang Saudi melihat adanya perbedaan pendapat, baik itu dulu atau sekarang, sebagai ancaman terhadap aturan otokratis mereka," kata Direktur Middle East di HRW. Penangkapan terakhirnya memicu perselisihan diplomatik antara Arab Saudi dan Kanada setelah kementerian luar negeri Kanada mengatakan dalam sebuah cuitan, 'sangat prihatin' tentang penahanan aktivis hak asasi di kerajaan itu, termasuk Badawi. Arab Saudi menuduh Kanada campur tangan terang-terangan dalam urusan domestik Kerajaan, terhadap norma-norma internasional dasar dan semua protokol internasional.

Eman Alnafjan
Alnafjan adalah seorang blogger dan aktivis Arab Saudi berusia 39 tahun. Ia ditangkap pada Mei 2018 bersama dengan Loujain Alhathloul dan lima pendukung perempuan lainnya di tengah kampanye pemerintah. Otoritas Arab Saudi menuduh para aktivis memiliki hubungan mencurigakan dengan pihak asing. Seorang peneliti di HRW, Rothna Begum mengatakan pemerintah berusaha membungkam para kritikus, terutama mereka yang memperjuangkan reformasi hak-hak perempuan. "Meskipun tidak jelas mengapa mereka ditangkap, hari ini kami telah melihat laporan pers Saudi yang menunjukkan bahwa para wanita ini adalah pengkhianat dan telah ditangkap karena mereka merusak persatuan nasional negara itu," kata Begum.

Ibu tiga anak ini memperoleh gelar sarjana dari Universitas Birmingham dan bekerja sebagai guru sekolah dan kemudian sebagai asisten universitas. Alnafjan kemudian meraih gelar masternya dari universitas yang sama dalam mengajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing.

Hatoon Alfassi
Alfassi adalah seorang aktivis dan penulis hak-hak perempuan yang ditangkap oleh otoritas Arab Saudi pada 24 Juni. Sebelum penangkapannya, ia sempat dilarang bepergian sejak 19 Juni. Ia dianggap sebagai tokoh utama dalam gerakan hak-hak perempuan di wilayah tersebut. Salah satu yang ia perjuangkan adalah hak mereka untuk berpartisipasi dalam pemilihan kota. 

Alfassi adalah profesor sejarah perempuan di King Saud University (KSU) dan pada 2000 meraih gelar PhD dalam sejarah perempuan dari Universtias Manchester. Sebagai seorang profesor, pekerjaannya berfokus pada sejarah dan politik perempuan. Pada 2011, ia bergabung dengan kampanye yang disebut 'Baladi'. Kampanye tersebut menyerukan partisipasi perempuan dalam pemilihan kota. Kampanye tersebut juga merencanakan adanya sesi pelatihan untuk mendidik peserta tentang teknik kampanye dan membantu mereka membuat agenda. 

Namun, pada 2015 upaya tersebut juga diblokir pada saat pemilihan kota. "Kementerian telah menghentikan kami dari mengadakan lokakarya ini karena mereka ingin program pemilu menjadi lebih bersatu dan terpusat," kata Alfassi pada saat itu, menurut Saudi Gazette.